Sifat keiblisan sangat berbahaya. Umat Islam mesti menjauhinya. Berdasarkan hadis Rasulullah, terdapat 5 sifat yang dimiliki iblis. Dan kelima sifat tersebut tentu tak baik bila sampai bersemayam dalam diri umat Islam.
Oleh Mustasyar PCNU Pamekasan KH Abd Hamid Mannan, pernyataan di atas sangat ditekankan dalam ceramah agamanya di masjid Nurul Jadid, Klompang Rombu Palengaan Pamekasan, Senin (2/4) malam. Ceramah agama tersebut disampaikan dalam Kolom Aswaja yang digelar pesantren Nurul Jadid serta dihadiri oleh para santri, masyarakat, dan para tokoh NU Pamekasan.
“Iblis itu tak pernah mengaku berdosa. Ini sifat yang pertama,” tegas ketua PCNU Pamekasan periode 1991-2001, itu. “Sifat kedua dan ketiga adalah tidak menyesal atas dosa yang dilakukannya dan tidak pernah berniat untuk bertobat.”
Adapun sifat yang keempat, tambahnya, ialah selalu dirinya merasa benar, tak pernah mau menyalahkan dirinya sekalipun banyak berbuat salah.
“Dan kelima adalah putus asa dari kasih sayang (rahmat) Allah,” kata Kiai Hamid.
Lima Sifat Nabi Adam
Kebalikan dari Iblis, Nabi Adam juga memiliki 5 sifat yang dapat membahagiakannya. Kelima sifat ini harus ditanam kuat dalam sanubari umat manusia.
“Sifat pertama ialah manusia pertama tersebut sudi mengaku berdoasa atas kesalahannya,” kisah Kiai Hamid. “Ia benar-benar mengaku dirinya berdosa melanggar larangan Allah agar tidak mendekati pohon Khuldi.”
Nabi Adam punya sifat menyesal, kata Kiai Hamid, dan penyesalan ini menjadi sifat selanjutnya yang harus diteladani.
“Sifat yang ketiga ialah Nabi Adam mencela perbuatan dosanya. Keempat, segera bertobat kepada Allah,” papar Kiai Hamid. “Dan tobat tersebut bernafas kesinambungan, berkelanjutan untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya.”
Dan sifat yang kelima, tambah Kiai Hamid, adalah tidak pernah putus asa kepada kasih sayang (rahmat) Allah.
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor: Hairul Anam
sumber :nu.or.id
Kebenaran tentang wahabi salafi (muhammad bin abdul wahab & Nashirudin al-Albani) yang merusak persatuan umat islam
Showing posts with label situs nu. Show all posts
Showing posts with label situs nu. Show all posts
Wednesday, April 4, 2012
Tuesday, March 20, 2012
bahaya menyikapi persoalan dengan simbol etnis
Bahaya, Menyikapi Persoalan dengan Simbol Etnis
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Slamet Effendy Yusuf mengingatkan agar semua pihak menghindarkan penggunaan identitas primordial dan komunal dalam menyikapi berbagai persoalan sosial yang diperselisihkan. Apa yang terjadi di Pontianak dan Palangkara, Kalimantan terkait penolakan kehadiran organisasi Front Pembela Islam (FPI), dengan pengerahan massa dengan simbol etnis adalah sangat berbahaya bagi integrasi bangsa.
“Boleh saja kalau ada yang membenci FPI setengah mati, tapi menggunakan kekuatan berlatarbelakang kekuatan etnis untuk menyalurkan kebencian dan penolakan itu adalah sebuah kesalahan besar,” tandas Ketua MUI Pusat ini di Jakarta, Senin (19/3).
Menurut Slamet apa yang terjadi di Pontianak dan Palangkaraya, sikap itu menunjukkan masih ada pihak yang belum menyadari kepekaan menggunakan kekuatan etnik untuk menyikapi persoalan perbedaan di tengah masyarakat. Penyikapan suatu masalah misalnya, pro dan kontra FPI dengan menggunakan simbol etnik dan suku tertentu termasuk senjata dan pita kepala yang identik dengan suku tertentu, itu sangat mudah memancing reaksi bagi etnik dan suku yang lain.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat besar dengan keberagaman, pluralisme, majemeuk. Keberagaman dan kemajemukannya pun sangat tumpang tindih. Ada suku tertentu sekaligus penganut agama tertentu, di situ terdapat sisi sensitifitas dari perbedaan yang sangat mudah disulut menjadi pemicu konflik horisontal.
Apalagi, masyarakat dewasa ini sangat rentan akibat dari kehidupan sehari-hari yang bersumber dari pertarungan politik, kesenjangan ekonomi, dan ketidakadilan hukum. Karena itu, Slamet menghargai kesigapan aparat kepolisian dan TNI yang bertindak cepat. “Kami juga mengapresiasi pemimpin agama dan tokoh etnik di Pontianak yang cepat berkoordinasi dan bermusyawarah, sehingga bisa menghindari konflik yang lebih parah lagi,” ujarnya.
Untuk itu secara khusus, Slamet meminta kalangan nahdliyyin (GP Ansor, PMII, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, Pesantren dll.), untuk terlibat aktif menjadi pendamai dan penengah dalam setiap peristiwa yang mengarah pada konflik sosial. “Jangan berpangku tangan. Tapi, dekati semua kelompok masyarakat dan ajak kembali kepada semangat persaudaraan sebagai sesama anak bangsa Indonesia,” pinta mantan Ketua Umum PP GP Ansor ini.
Penulis: Achmad Munif Arpas
sumber : nu.or.id (19 maret 2012
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Slamet Effendy Yusuf mengingatkan agar semua pihak menghindarkan penggunaan identitas primordial dan komunal dalam menyikapi berbagai persoalan sosial yang diperselisihkan. Apa yang terjadi di Pontianak dan Palangkara, Kalimantan terkait penolakan kehadiran organisasi Front Pembela Islam (FPI), dengan pengerahan massa dengan simbol etnis adalah sangat berbahaya bagi integrasi bangsa.
“Boleh saja kalau ada yang membenci FPI setengah mati, tapi menggunakan kekuatan berlatarbelakang kekuatan etnis untuk menyalurkan kebencian dan penolakan itu adalah sebuah kesalahan besar,” tandas Ketua MUI Pusat ini di Jakarta, Senin (19/3).
Menurut Slamet apa yang terjadi di Pontianak dan Palangkaraya, sikap itu menunjukkan masih ada pihak yang belum menyadari kepekaan menggunakan kekuatan etnik untuk menyikapi persoalan perbedaan di tengah masyarakat. Penyikapan suatu masalah misalnya, pro dan kontra FPI dengan menggunakan simbol etnik dan suku tertentu termasuk senjata dan pita kepala yang identik dengan suku tertentu, itu sangat mudah memancing reaksi bagi etnik dan suku yang lain.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat besar dengan keberagaman, pluralisme, majemeuk. Keberagaman dan kemajemukannya pun sangat tumpang tindih. Ada suku tertentu sekaligus penganut agama tertentu, di situ terdapat sisi sensitifitas dari perbedaan yang sangat mudah disulut menjadi pemicu konflik horisontal.
Apalagi, masyarakat dewasa ini sangat rentan akibat dari kehidupan sehari-hari yang bersumber dari pertarungan politik, kesenjangan ekonomi, dan ketidakadilan hukum. Karena itu, Slamet menghargai kesigapan aparat kepolisian dan TNI yang bertindak cepat. “Kami juga mengapresiasi pemimpin agama dan tokoh etnik di Pontianak yang cepat berkoordinasi dan bermusyawarah, sehingga bisa menghindari konflik yang lebih parah lagi,” ujarnya.
Untuk itu secara khusus, Slamet meminta kalangan nahdliyyin (GP Ansor, PMII, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, Pesantren dll.), untuk terlibat aktif menjadi pendamai dan penengah dalam setiap peristiwa yang mengarah pada konflik sosial. “Jangan berpangku tangan. Tapi, dekati semua kelompok masyarakat dan ajak kembali kepada semangat persaudaraan sebagai sesama anak bangsa Indonesia,” pinta mantan Ketua Umum PP GP Ansor ini.
Penulis: Achmad Munif Arpas
sumber : nu.or.id (19 maret 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)